
Kota Malang – Laju inflasi Kota Malang sepanjang 2025 tercatat terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Desember 2025 mengalami inflasi bulanan sebesar 0,56 persen. Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Kota Malang berada di angka 2,81 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 2,93 persen dan nasional 2,92 persen.
Tekanan inflasi Desember 2025 terutama dipicu kenaikan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,36 persen secara bulanan. Komoditas penyumbang utama antara lain cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, dan bensin. Kenaikan cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi meningkatnya permintaan di tengah curah hujan tinggi yang berdampak pada produksi dan distribusi. Harga emas perhiasan mengikuti tren kenaikan harga emas global, sementara daging ayam ras terdorong permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru. Adapun kenaikan bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM non subsidi sejak 1 Desember 2025.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi sejumlah komoditas, seperti cabai merah serta kacang panjang, kentang, jeruk, dan buncis. Penurunan harga komoditas tersebut didukung pasokan yang relatif terjaga, sehingga membantu menahan laju inflasi agar tetap dalam sasaran.
Terkendalinya inflasi tidak terlepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui berbagai langkah kolaboratif. Sepanjang Desember 2025, TPID Kota Malang melaksanakan Gerakan Pangan Murah, membuka Warung Tekan Inflasi, melakukan sidak pasar, pemantauan harga bahan pokok, hingga fasilitasi distribusi komoditas pangan. Upaya tersebut diperkuat dengan capacity building penyusunan neraca pangan serta koordinasi rutin antar pemangku kepentingan.
Ke depan, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah bersama Bank Indonesia akan dilanjutkan pada 2026 melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan. Penguatan program 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, diharapkan mampu menjaga inflasi tetap berada pada rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen.