
Kota Malang – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat memicu kepanikan pengusaha. Pasalnya, kurs mata uang menembus angka Rp18 ribu per Dolar AS. Oleh karena itu, kondisi ekonomi global ini langsung memukul stabilitas dunia usaha Kota Malang. Selanjutnya, beban operasional hingga harga bahan baku impor terus mengalami kenaikan drastis.
Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, membenarkan fenomena krisis tersebut. Sebab, banyak perusahaan mulai mengadukan masalah pembengkakan biaya produksi. Misalnya, sektor industri plastik sangat menderita akibat lonjakan harga biji plastik. Bahkan, harga bahan bakar solar untuk mesin operasional ikut meroket tajam.

Tentu saja, Pemerintah Kota Malang menaruh perhatian serius terhadap krisis ekonomi ini. Dengan demikian, pemerintah berupaya keras melindungi tingkat serapan tenaga kerja lokal. Apalagi, angka pengangguran terbuka Kota Malang masih bertengger pada level 5,69 persen. Oleh sebab itu, Arif berfokus menjaga situasi agar badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) urung terjadi.
Menurut Arif, pihaknya belum menemukan lonjakan pemecatan karyawan akibat tekanan ekonomi global. Faktanya, kasus pemberhentian pekerja saat ini murni akibat masalah kedisiplinan internal. Meskipun begitu, Disnaker terus meningkatkan kewaspadaan penuh menghadapi segala kemungkinan krisis. Kemudian, pemerintah meminta perusahaan segera melapor jika menghadapi gejolak ketenagakerjaan.
Singkatnya, pemerintah siap menggelar mediasi sejak dini melalui mekanisme penyelesaian tripartit. Di sisi lain, krisis ini berpotensi mengganggu pencapaian target investasi senilai Rp2,3 triliun. Menariknya, Arif memastikan belum ada satupun investor yang menarik atau membatalkan modalnya. Mari kita dukung iklim usaha lokal agar mampu bertahan melewati badai ekonomi ini!