10
Mei
2026
Minggu - : WIB

Emas Tembus USD 5.100, Ketegangan AS–Iran dan Kisruh Tarif Global Picu Lonjakan Permintaan

Aditya Menggala
Aditya Manggala
Februari 22, 2026 pada Bisnis & Ekonomi Lokal
Emas Tembus USD 5.100, Ketegangan AS–Iran dan Kisruh Tarif Global Picu Lonjakan Permintaan

Kota Malang – Harga emas dunia kembali mencetak rekor pada Jumat (21/2/2026), menembus level sekitar USD 5.130 per ons seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, gejolak kebijakan tarif Amerika Serikat, dan tingginya ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve. Reli ini mengukuhkan emas sebagai aset aman utama di tengah risiko global yang meningkat.

Ketegangan AS–Iran Angkat Status Emas sebagai Safe Haven

Lonjakan harga emas terutama dipicu memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Media internasional melaporkan kedua negara berada pada fase saling unjuk kekuatan militer setelah negosiasi ihwal program nuklir Iran kembali buntu. Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas ke fasilitas strategis Iran, sementara Wakil Presiden JD Vance menuding Teheran belum memenuhi sejumlah tuntutan utama Washington.

Iran menilai pengerahan kekuatan militer AS sebagai tindakan yang tidak perlu dan kontraproduktif, meski tetap membuka ruang diplomasi dengan jendela waktu sekitar 10 hingga 15 hari untuk mencari titik temu. Situasi yang belum pasti ini memperkuat kebutuhan investor global terhadap aset lindung nilai yang relatif lebih stabil.

Analis pasar komoditas di Jakarta, Andi Pratama, menilai eskalasi di Timur Tengah langsung tercermin di pasar emas. “Setiap kali tensi geopolitik naik, terutama di kawasan sensitif seperti Timur Tengah, emas hampir selalu menjadi tujuan utama pelarian modal. Investor mencari instrumen yang tidak tergerus konflik, dan emas memenuhi kriteria itu,” ujarnya kepada BeritaMalang.com, Sabtu (22/2/2026).

Putusan MA AS dan Kebijakan Tarif Baru Perburuk Ketidakpastian

Tekanan ke pasar keuangan global makin besar setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam putusan 6–3 membatalkan paket tarif darurat yang diajukan Presiden Trump. Tidak lama berselang, Trump justru memberlakukan tarif global baru sebesar 10 persen dan mengisyaratkan kenaikan hingga 15 persen dalam waktu dekat.

Di saat yang sama, data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS kuartal IV hanya sekitar 1,4 persen, sementara inflasi inti PCE bertahan di kisaran 3 persen. Kondisi ini menimbulkan kombinasi risiko perlambatan ekonomi dengan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Risalah rapat The Fed terbaru memperlihatkan sebagian pejabat masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak kembali ke target 2 persen, meski pelaku pasar saat ini mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga hingga September. Ketidakjelasan arah kebijakan ini membuat volatilitas pasar meningkat dan menguatkan daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai.

Menurut ekonom pasar keuangan yang berbasis di Surabaya, Ratna Widyaningrum, dinamika kebijakan tersebut berpotensi mendorong arus dana ke aset aman. “Investor global saat ini dihadapkan pada kombinasi yang sulit: risiko perang kawasan, kebijakan tarif yang berubah-ubah, serta bank sentral yang masih hawkish. Dalam situasi seperti ini, penambahan porsi emas di portofolio menjadi langkah rasional, bukan sekadar spekulatif,” jelas Ratna.

Bank Sentral Gencar Akumulasi, Prospek Jangka Panjang Masih Kuat

Selain faktor jangka pendek, prospek emas ke depan juga ditopang tren pembelian oleh bank sentral dunia. Sejumlah laporan menyebut bank sentral di berbagai negara, termasuk Polandia dan Tiongkok, terus menambah cadangan emas sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS dan untuk memperkuat ketahanan terhadap guncangan eksternal. UBS memproyeksikan harga emas berpotensi naik hingga sekitar USD 6.200 per ons dalam beberapa bulan mendatang, sementara berbagai rumah riset memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral tetap tinggi dalam dua tahun ke depan.

Analis investasi lokal juga melihat tren tersebut sebagai sinyal penting bagi investor ritel Indonesia.
“Jika bank sentral terus agresif membeli emas, itu artinya mereka melihat risiko struktural dalam sistem keuangan global. Bagi investor domestik, pesan utamanya jelas: emas perlu ditempatkan sebagai komponen strategis jangka menengah dan panjang, bukan hanya instrumen trading jangka pendek,” kata Muhammad Fahri, analis komoditas di sebuah sekuritas nasional, saat dihubungi terpisah.

Beberapa riset di dalam negeri memperkirakan harga emas dalam rupiah masih berpotensi menguat, seiring tren kenaikan harga global dan sensitivitas terhadap pergerakan nilai tukar.

Dampak bagi Investor dan Masyarakat Indonesia

Kondisi ini membuka dua konsekuensi bagi masyarakat dan investor Indonesia. Pertama, kenaikan harga emas memberi keuntungan bagi mereka yang telah memiliki emas sejak awal tren kenaikan beberapa tahun terakhir. Kedua, bagi calon investor baru, momentum akumulasi perlu dihitung secara lebih hati-hati, terutama dalam menentukan porsi emas di portofolio agar tidak mengabaikan kebutuhan likuiditas dan profil risiko.

Ratna menambahkan, bagi rumah tangga di daerah, termasuk Malang Raya, emas masih relevan sebagai sarana tabungan jangka panjang. Namun, ia mengingatkan pentingnya disiplin.
“Emas bisa membantu menjaga daya beli, tetapi masyarakat perlu disiplin menabung secara berkala dan tidak hanya membeli ketika harga sedang heboh diberitakan. Pendekatan berkala akan mengurangi risiko salah timing,” ujarnya.

Dalam beberapa bulan ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi AS–Iran, respons pasar terhadap tarif baru, serta langkah-langkah lanjutan The Fed. Selama ketiga faktor tersebut belum menunjukkan kepastian, emas diperkirakan tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian global.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2025 BeritaMalang.com - Dekat, Cepat, Berguna.
MENU