21
Juli
2026
Selasa - : WIB

Bukan Beban APBD, MCC Adalah Investasi Strategis untuk Masa Depan Ekonomi Kreatif Malang

Aditya Menggala
Aditya Manggala
April 15, 2026 pada Kota Malang
Manfaat Malang Creative Center Bagi Ekonomi Kreatif

Kota Malang – Narasi yang menyebut Malang Creative Center (MCC) sebagai beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinilai sebagai sebuah kekeliruan cara pandang. Hal tersebut ditegaskan oleh Vicky Arief Herinadharma, Ketua Harian ICCN sekaligus praktisi komunikasi strategis, dalam analisisnya mengenai ekosistem ekonomi kreatif di Kota Malang.

Menurut Vicky, penyebutan “beban” merupakan simplifikasi yang problematik karena gagal membedakan antara biaya (cost) dan investasi publik (investment). Ia menegaskan bahwa MCC adalah infrastruktur strategis, bukan unit bisnis yang harus menghasilkan keuntungan materiil secara langsung.

“Menyebutnya sebagai beban menunjukkan kegagalan dalam memahami fungsi infrastruktur kreatif dalam ekonomi modern. MCC bekerja seperti ‘infrastruktur jalan’ bagi ekonomi kreatif. Tidak semua jalan menghasilkan uang langsung, tapi tanpa jalan, ekonomi tidak bergerak,” ungkap Vicky.

Multiplier Effect vs Logika Fiskal Sempit

Pendekatan fiskal yang hanya melihat pengeluaran rutin APBD (sekitar Rp 2–6 miliar per tahun) dianggap terlalu sempit. Berdasarkan literatur ekonomi kreatif, nilai sebuah creative hub seharusnya diukur melalui multiplier effect.

Dampak nyata yang dihasilkan MCC meliputi:

  • Penciptaan lapangan kerja baru.
  • Lahirnya startup dan UMKM kreatif.
  • Peningkatan nilai ekonomi subsektor kreatif.
  • Penguatan city branding serta dampak turunan pada pariwisata.

Vicky memperingatkan bahwa jika narasi “beban APBD” terus dibiarkan, akan muncul tekanan untuk komersialisasi berlebihan. Hal ini berisiko membuat MCC menjadi ruang eksklusif yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar, sehingga menghilangkan fungsi pembinaan bagi UMKM dan talenta muda.

Krisis Framing dan Komunikasi Publik

Dari sudut pandang komunikasi strategis, fenomena ini menunjukkan adanya krisis framing kebijakan publik. Publik cenderung hanya melihat angka biaya karena minimnya narasi mengenai nilai dan dampak jangka panjang.

“Masalahnya bukan MCC sebagai beban, melainkan bagaimana mengoptimalkan MCC sebagai mesin penggerak ekonomi kreatif. Kita butuh transparansi dampak, storytelling ekonomi, dan rasa kepemilikan bersama,” tambahnya.

Vicky mendorong agar cara pandang kota berubah; melihat MCC bukan sebagai beban, melainkan platform investasi masa depan berbasis talenta, budaya, dan inovasi agar Kota Malang tidak tertinggal dalam kompetisi ekonomi kreatif global.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2025 BeritaMalang.com - Dekat, Cepat, Berguna.
MENU