
Kota Malang – Film Esok Tanpa Ibu resmi merilis official trailer dan poster yang menghadirkan kisah keluarga dengan nuansa haru dan hangat. Film ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026.
Diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, film ini sebelumnya telah menggelar penayangan perdana di Indonesia pada ajang Jakarta ASEAN Film Festival 2020. Esok Tanpa Ibu mengangkat dinamika hubungan ayah, ibu, dan anak dalam menghadapi kehilangan, sekaligus menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan dalam relasi manusia.
Official trailer menampilkan kedekatan Cimot atau Rama, remaja yang diperankan Ali Fikry, dengan sang Ibu yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Sosok ibu menjadi tempat Cimot mencurahkan kegelisahan dan kebahagiaannya, berbeda dengan relasinya yang canggung bersama sang Ayah yang diperankan Ringgo Agus Rahman.
Konflik mulai muncul ketika sang Ibu mengalami koma. Kehilangan figur sentral dalam hidupnya membuat Cimot terpuruk, sementara hubungan dengan Ayahnya justru semakin merenggang. Di tengah kondisi tersebut, Cimot menemukan i BU, sebuah teknologi kecerdasan buatan ciptaan temannya, yang memungkinkan ia kembali melihat, mendengar, dan berinteraksi dengan sosok Ibunya.
Kehadiran AI ini menjadi titik emosional utama film, mempertanyakan apakah teknologi mampu menggantikan peran dan kasih sayang seorang ibu. Nuansa emosi dalam trailer diperkuat dengan penggunaan lagu Jernih dari Kunto Aji serta Raih Tanahmu dari hara dan Nosstres.
Sementara itu, official poster menampilkan Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry, dan Ringgo Agus Rahman berbaring di taman bunga putih dengan bingkai menyerupai layar gawai. Visual tersebut merepresentasikan benturan antara kasih sayang manusiawi dan imitasi teknologi dalam kehidupan keluarga.
Film Esok Tanpa Ibu disutradarai Ho Wi ding dengan naskah yang ditulis Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief. Film ini diproduseri Shanty Harmayn bersama Dian Sastrowardoyo, sekaligus menjadi proyek kolaborasi internasional yang didukung oleh Singapore Film Commission dan Infocomm Media Development Authority.
Produser Shanty Harmayn menyampaikan bahwa film ini berangkat dari ide personal para penulis yang berkembang melalui diskusi panjang sejak masa pandemi. Cerita kemudian berevolusi dengan mengangkat isu keluarga dan dampak teknologi terhadap hubungan manusia.

Dian Sastrowardoyo menyebut perannya sebagai Ibu mewakili sosok yang tidak tergantikan dalam kehidupan banyak orang. Sementara Ali Fikry menjelaskan bahwa karakter Cimot menggunakan AI sebagai mekanisme bertahan menghadapi rasa kehilangan. Ringgo Agus Rahman menambahkan bahwa film ini juga merefleksikan proses seorang ayah dalam membangun kembali komunikasi dengan anak remajanya setelah kehilangan pasangan hidup.
Selain ketiga pemeran utama, film ini turut dibintangi Aisha Nurra Datau dan Bima Sena. Dengan pendekatan emosional dan tema relevan, Esok Tanpa Ibu diharapkan mampu menyentuh penonton dan membuka ruang refleksi tentang keluarga, kehilangan, dan batas teknologi dalam kehidupan manusia.