
Kota Malang – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang Raya sukses menggelar kompetisi permainan tradisional yang unik. Bersama Pemerintah Kota Malang, mereka melombakan Dakon dan Bola Bekel untuk memperingati Hari Jadi ke-112 Kota Malang. Seluruh rangkaian acara ini berlangsung meriah di berbagai pusat perbelanjaan sepanjang April 2026.
Malang Town Square (MATOS) menjadi salah satu titik pusat kemeriahan babak penyisihan hingga final. Sebanyak 190 peserta mendaftar untuk kompetisi Dakon, sementara 70 peserta lainnya bersaing di kategori Bola Bekel. Mereka semua berjuang keras demi memperebutkan Piala Wali Kota Malang.
Marcom Manager MATOS, Sasmita Rahayu, menyebutkan bahwa masyarakat menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Peserta kompetisi ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, mahasiswa, hingga kaum lansia. Sasmita menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen APPBI dalam melestarikan budaya lokal.
“Kami ingin mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gadget. Karena itu, APPBI berencana menyediakan ruang khusus permainan tradisional di setiap mal anggota kami,” tutur Sasmita pada Sabtu (18/04/2026). Langkah ini bertujuan agar anak-anak tetap bisa bergerak aktif saat orang tua mereka sedang berbelanja.
Selain lomba, MATOS juga menghadirkan atmosfer masa lalu melalui bazar UMKM kuliner legendaris. Pengunjung dapat menikmati beragam jajanan pasar seperti dawet, leker, hingga rangin. Pihak manajemen sengaja memilih konsep “Desa Matos” agar selaras dengan jenis permainan tradisional yang sedang dilombakan.
Salah satu peserta, Tiara Salma Noviandira, mengaku sangat menikmati jalannya kompetisi. Mahasiswi ini sudah menekuni hobi bermain Dakon sejak masa kecilnya. “Acaranya seru sekali. Selain bertanding, saya bisa bernostalgia dengan hobi lama saya,” ujar Tiara usai memenangkan babak penyisihan.
Senada dengan Tiara, seorang ibu muda bernama Anis berharap agar MATOS rutin menggelar acara serupa. Menurutnya, ajang ini sangat efektif untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Ia menilai permainan tradisional lebih sehat bagi perkembangan anak dibandingkan hanya bermain ponsel sepanjang hari.