
Kelurahan Polowijen – Warga Kelurahan Polowijen kembali merayakan tradisi warisan leluhur secara meriah. Tepatnya, ratusan masyarakat kompak menggelar tradisi Memetri atau Barikan. Selanjutnya, ritual sakral ini mengawali rangkaian perayaan Bersih Desa tahun 2026. Sebagai informasi, warga memusatkan acara tersebut pada area Situs Joko Lolo.
Pasalnya, peserta membawa berbagai sajian tradisional sejak Minggu pagi (21/6/2026). Contohnya, warga menyajikan nasi tumpeng dan aneka jajanan pasar. Selain itu, panitia juga menyiapkan sesaji cok bakal dan menyalakan dupa. Faktanya, jumlah peserta acara tahun ini melonjak mencapai tiga ratus orang.

Menurut tokoh masyarakat Eddy Wijanarko, Bersih Desa mewujudkan rasa syukur warga. Sebab, warga selalu memohon keselamatan dan kelancaran pembangunan wilayah Polowijen. Di sisi lain, tokoh budaya Effendi membeberkan akar sejarah desa tersebut. Faktanya, Prasasti Wurandungan menyebutkan nama Desa Panawidyan sejak tahun 943 Masehi.
Dahulu, Raja Mpu Sindok menetapkan wilayah ini sebagai daerah bebas pajak. Alasannya, masyarakat desa memikul tugas khusus merawat kelestarian bangunan suci setempat. Sementara itu, tokoh agama H Fauzan memimpin pembacaan tahlil dan doa. Kemudian, pemandu acara Sugianto mengarahkan seluruh prosesi ritual hingga selesai sempurna.
Tidak hanya itu, panitia sudah menyiapkan beragam agenda lanjutan yang meriah. Misalnya, warga siap menggelar karnaval budaya sepanjang Jalan Cakalang pekan depan. Bahkan, seniman Cak Percil siap mengguncang panggung hiburan pada awal Juli. Harapannya, seluruh rangkaian kegiatan ini sukses mempererat semangat kebersamaan warga Polowijen. Mari kita lestarikan budaya leluhur demi menjaga identitas luhur bangsa Indonesia!