
Kota Malang – Konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel sering kali disederhanakan sebagai pertentangan ideologi atau agama. Namun, Arif Subekti, S.Pd., M.A., dosen sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), menegaskan bahwa realitas di balik ketegangan tersebut jauh lebih kompleks dan dinamis.
Dalam keterangannya pada Selasa (14/4/2026), Arif menjelaskan bahwa sejarah melihat konflik ini secara diakronik, yakni melihat perubahan dan keberlanjutan dari waktu ke waktu. Ia mengibaratkan dinamika geopolitik saat ini seperti papan catur, di mana perang telah berevolusi menjadi perang proksi (proxy war).
“Perang hari ini tidak selalu mempertemukan dua pihak secara langsung. Ada keterlibatan banyak aktor, seperti bidak catur yang disuruh maju duluan,” ujar Arif.
Kepentingan Nasional di Atas Ideologi Arif menekankan bahwa faktor utama yang menggerakkan konflik kontemporer di Timur Tengah adalah kepentingan nasional (national interest) masing-masing negara, termasuk keamanan dan sumber daya ekonomi. Meskipun latar belakang sejarah seperti Revolusi Iran 1979 mengubah peta hubungan internasional secara drastis, kepentingan hari ini tetap menjadi penentu utama.
“Perang itu bukan semata ideologi yang sering kali disandarkan pada pengalaman sejarah masa lalu. Yang paling menentukan adalah kepentingan hari ini,” tegasnya. Ia mencontohkan isu pengembangan nuklir Iran yang menjadi pemantik ketegangan karena adanya perbedaan persepsi terhadap perjanjian internasional.
Dinamika Koalisi yang Tidak Permanen Lebih lanjut, Arif mengingatkan bahwa koalisi di kawasan Timur Tengah sangat cair. Sebagai catatan sejarah, Iran dan Israel sebenarnya pernah memiliki hubungan yang cukup dekat sebelum meletusnya Revolusi 1979. Hal ini membuktikan bahwa keberpihakan negara-negara di kawasan tersebut bisa berubah seiring perubahan kebutuhan strategis.
Dalam konteks global, Arif juga menyoroti posisi Indonesia. Ia menilai penting bagi Indonesia untuk tetap teguh pada prinsip kedaulatan dan kewibawaan dalam merespons konflik global. Melalui perspektif sejarah, masyarakat diharapkan dapat memahami isu internasional secara utuh tanpa terjebak dalam narasi hitam-putih yang bias.