22
Juli
2026
Rabu - : WIB

Pelemahan Rupiah Pukul Ekonomi Keluarga, Akademisi UMM Peringatkan Warga Malang Jauhi Paylater

Aditya Menggala
Aditya Manggala
Mei 20, 2026 pada Pendidikan & Komunitas
Yunan Syaifullah

Kabupaten Malang – Pelemahan nilai tukar rupiah kepada dolar Amerika Serikat memicu dampak serius bagi masyarakat. Pasalnya, kondisi ini langsung membebani pengeluaran rumah tangga pada berbagai daerah, khususnya wilayah Kota Malang. Oleh karena itu, akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, membagikan analisis ekonominya pada Senin (18/5/2026).

Dosen ekonomi pembangunan tersebut menilai rantai pasok lokal memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Sebab, harga kebutuhan pokok seperti tahu dan tempe pasti melonjak tajam akibat efek pelemahan kurs. Selanjutnya, ia mencontohkan bahwa mayoritas kebutuhan kedelai nasional masih berasal dari suplai pasar luar negeri.

Kenaikan Harga BBM dan Biaya Produksi

Selain itu, harga bahan bakar minyak dan tarif transportasi juga rentan mengalami lonjakan harga signifikan. Tentu saja, negara Indonesia masih mengimpor pasokan minyak dan energi dalam jumlah yang sangat besar. Dengan demikian, total belanja bulanan keluarga akan membengkak secara otomatis mengikuti efek berantai pasar tersebut.

Bahkan, Yunan memperingatkan warga yang merasa aman karena tidak mengonsumsi barang impor secara langsung. Menurutnya, pelemahan rupiah tetap mengerek ongkos produksi industri lokal yang menyentuh seluruh lapisan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, warga wajib mengatur ulang prioritas pengeluaran harian mereka mulai dari detik ini.

Hindari Kredit Instan dan Mulai Diversifikasi

Menyikapi situasi ini, Yunan menyarankan publik agar tidak panik secara berlebihan dalam merespons gejolak pasar. Sebaliknya, warga perlu memastikan ketersediaan dana darurat dan menunda pembelian barang sekunder seperti produk gawai. Lebih lanjut, ia menganjurkan langkah diversifikasi aset menuju instrumen emas, reksadana, maupun saham sektor defensif.

Di sisi lain, pakar ekonomi ini menyoroti bahaya laten penggunaan layanan kredit instan atau paylater. Pasalnya, kebiasaan konsumtif tersebut menciptakan ilusi finansial seolah pengguna memiliki uang tunai dalam jumlah berlebih. Padahal, beban bunga dan nominal denda justru berpotensi menguras habis seluruh tabungan keluarga setiap bulannya.

Singkatnya, publik harus bersikap ekstra bijak saat mengelola arus kas rumah tangga di tengah krisis. Mari kita jadikan tantangan ekonomi ini sebagai momentum untuk mencari peluang penghasilan mandiri secara global. Harapannya, warga Malang Raya mampu bertahan dan menjaga stabilitas finansial mereka secara konsisten!

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2025 BeritaMalang.com - Dekat, Cepat, Berguna.
MENU