10
Mei
2026
Minggu - : WIB

UB Bawa Logika Korporasi, Luncurkan Platform SEMAR untuk Deteksi Risiko Kampus

Aditya Menggala
Aditya Manggala
Mei 1, 2026 pada Kota Malang
Sistem Informasi Manajemen Risiko UB

Kota Malang – Universitas Brawijaya (UB) resmi meluncurkan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SEMAR). Platform ini berfungsi mengawasi risiko sejak tahap perencanaan program. Sistem tersebut menjadi sinyal kuat bahwa tata kelola kampus kini tidak lagi bersifat reaktif. Pihak kampus kini membaca potensi masalah sebelum muncul.

Skala organisasi perguruan tinggi sangat besar dan kompleks. Ancaman tidak hanya datang dari sektor akademik. Risiko bisa muncul dari sumber daya manusia, reputasi lembaga, hingga pengadaan barang.

Ubah Pola Pikir dari Reaktif Menjadi Proaktif

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., mengarahkan seluruh unit untuk menerapkan manajemen risiko. Setiap pimpinan unit wajib melaporkan risiko melalui sistem digital. Pimpinan universitas pun dapat memantau laporan tersebut melalui dashboard khusus.

“Seluruh unit di Universitas Brawijaya wajib mengimplementasikan manajemen risiko,” ujar Prof. Widodo. Ia menilai banyak organisasi terlalu fokus pada pelaksanaan tugas. Namun, banyak pihak belum memberi perhatian pada hambatan di tengah jalan.

Oleh karena itu, setiap pimpinan unit harus memahami titik rawan di area kerjanya. Pemahaman tugas pokok saja tidak cukup. Pimpinan harus memahami risiko yang mungkin terjadi. Prof. Widodo menegaskan bahwa manajemen risiko kini menjadi tulang punggung organisasi.

Dashboard Early Warning untuk Pimpinan

Ketua Satuan Reformasi Birokrasi UB, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, SH., M.Hum., menjelaskan fungsi aplikasi ini. SEMAR dirancang untuk membaca ketidakpastian yang menghambat pencapaian visi universitas. Sistem ini mengidentifikasi risiko, mengukur dampak, serta mengelompokkan kategori ancamannya.

Pimpinan universitas melihat hasil tersebut dalam dashboard SMART. Aplikasi ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini atau early warning system. Indikator warna memudahkan pimpinan mengambil keputusan cepat.

“Warna merah berarti ada masalah,” jelas Ngesti. Ancaman yang terbaca bisa berupa masalah reputasi atau persoalan pengadaan barang. Pimpinan dapat menentukan apakah risiko harus dihindari atau dikelola sebagai tantangan baru.

Dengan SEMAR, UB mulai membawa logika korporasi modern ke lingkungan kampus. Program tidak lagi cukup dinilai dari target yang disusun. Organisasi kini harus mampu membaca risiko sebelum masalah benar-benar terjadi. Langkah ini memperkuat komitmen UB dalam menjaga tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2025 BeritaMalang.com - Dekat, Cepat, Berguna.
MENU